Manfaatkah di Masyarakat “Suara Perut Pengamat”

Oleh : Salingka Tim Pemayung Group

Pemayung.com, Jambi. Ungkapan “suara perut pengamat” atau kritikus yang menyuarakan pendapat demi kepentingan pribadi (perut) dibandingkan kebenaran ilmiah. Fenomena jadi pengamat karena banyak gelar adalah kritik sosial yang umum di masyarakat, sering kali merujuk pada inflasi gelar akademik atau perburuan gelar (gelar-sentris) tanpa disertai kualitas, etika, atau pengamalan ilmu yang memadai. Konsep ini menekankan bahwa pendidikan sejati adalah komitmen seumur hidup dan kontribusi nyata, bukan sekadar simbol kecerdasan atau status sosial. 

Berikut adalah poin-poin kunci terkait fenomena tersebut:

  • Ilmu vs Adab/Akhlak: Banyak pendapat menekankan bahwa “Orang berADAB sudah pasti berILMU, namun orang berILMU belum tentu berADAB”. Gelar akademik yang banyak tidak menjamin seseorang memiliki adab yang baik atau menggunakan ilmunya untuk kebaikan masyarakat.
  • Adab Lebih Tinggi dari Ilmu: Adab dianggap sebagai puncak dari segala ilmu. Tanpa akhlak yang baik, ilmu hanya menjadi alat untuk kepentingan pribadi.
  • Gelar sebagai Aksesoris: Seseorang yang memiliki ilmu hebat (IP tinggi/gelar banyak) namun tidak berakhlak, hanya menggunakan gelarnya sebagai “aksesoris”, bukan sebagai panduan dalam bertutur dan bersikap.
  • Pentingnya Kejujuran Ilmiah: Orang yang benar-benar berilmu tidak akan mengaku dirinya berilmu dan berani mengatakan “tidak tahu” jika memang tidak tahu.
  • Fenomena Gelar Palsu/Abal-abal: Adanya kasus pencabutan gelar profesor (seperti di Universitas Lambung Mangkurat) menunjukkan bahwa banyak gelar tidak selalu mencerminkan kualitas keilmuan yang sesungguhnya

Berikut adalah penjabaran filosofi dan pandangan masyarakat terkait fenomena tersebut:

1. Gelar Bukanlah Bukti Ilmu (Refleksi Filosofis)

  • Kualitas vs Kuantitas: Banyaknya gelar, seperti kasus 32-45 gelar akademik, sering kali lebih menonjolkan kemampuan akademis individual namun tidak secara langsung mencerminkan keahlian atau kebijaksanaan (wisdom).
  • Pendidikan vs Ijazah: Filosofi yang berkembang adalah ijazah hanya tanda pernah bersekolah, bukan jaminan pernah berpikir.
  • Beradab Lebih Tinggi dari Berilmu: Terdapat pandangan bahwa “Beradab sudah pasti berilmu, berilmu belum tentu beradab”. Seseorang yang berilmu sering kali terjebak pada teori, sementara yang beradab mengamalkannya. 

2. Fenomena Inflasi Gelar di Indonesia

  • Perburuan Penghormatan: Terjadi gejala di mana elit memburu gelar akademik (sering disebut sebagai fenomena “inflasi gelar”) untuk meningkatkan status sosial, bukan semata-mata untuk pengembangan ilmu.
  • Penyalahgunaan: Beberapa kasus menunjukkan gelar digunakan sebagai “alat” legitimasi yang menggerus martabat ilmu itu sendiri, terutama jika didapat melalui cara yang tidak etis.
  • Kutukan Ilmu: Banyak akademisi fokus agar “terdengar pintar” daripada membumikan sains untuk masyarakat. 

3. “Suara Perut” Pengamat dan Pandangan Masyarakat

  • Suara Perut/Kritik: Istilah ini merujuk pada suara-suara sumbang atau kritik tajam dari masyarakat/pengamat yang melihat adanya ketimpangan antara gelar yang berderet dengan kemanfaatan ilmunya.
  • Ilmu yang Bermanfaat: Filosofi dasar di masyarakat adalah ilmu harus menyinari umat, bukan membuatnya suram. Orang berilmu seharusnya menciptakan lapangan kerja atau solusi, bukan sekadar mencari kerja. 

Kesimpulan : Masyarakat secara umum menghargai pendidikan, namun semakin skeptis terhadap gelar yang tidak dibarengi dengan integritas dan kontribusi nyata. Gelar sejatinya adalah amanah, bukan sekadar simbol kecerdasan.

Singkatnya, ilmu tanpa adab dan akhlak tidak berharga. Gelar adalah apresiasi akademik, namun kebijaksanaan (hikmah) dan etika (adab) adalah tolok ukur sejati dari seseorang yang berilmu. (tim)

Disclaimer :

Analisis, opini, atau informasi yang disampaikan dalam konteks ini adalah:

  • Berdasarkan pengamatan umum dan pandangan publik/artikel.
  • Tidak ditujukan untuk menuduh individu tertentu, melainkan sebagai refleksi kritis atas fenomena sosial.
  • Setiap individu berhak memiliki pendapat berbeda terkait isu akademik dan profesionalisme.

Kesimpulan:Cerdas sejati terletak pada kemampuan berpikir, bertindak, dan tumbuh sebagai manusia, bukan semata-mata pada ijazah atau gelar.