Berternak Serigala di Gurun Pasir, “Penyanjung Pemimpin Yang Salah”

Oleh Selingka Pemayung Group

Pemayung.com, Jambi. Menyanjung pemimpin tidak sesuai kenyataan—atau biasa disebut penjilatan/asabiyah buta, memiliki filosofi yang sangat dalam, sering diibaratkan dengan “berternak serigala di gurun pasir”.

Berikut adalah penjabaran filosofisnya:

  • Berternak Serigala di Gurun Pasir, Serigala (Pemimpin yang Salah/Zalim): Serigala adalah predator yang buas, liar, dan tidak bisa disetir. Dalam konteks kepemimpinan, ini menggambarkan sosok yang hanya mementingkan diri sendiri atau bertindak kejam.
  • Gurun Pasir (Lingkungan/Rakyat): Gurun adalah tempat yang tandus dan keras. Memberi makan serigala di sini berarti memberikan “pujian” atau “kekuasaan” yang tidak layak.
    Arti tersurat: Memuji pemimpin yang salah secara berlebihan (di luar kenyataan) sama dengan memberi makan serigala. Ketika serigala itu besar dan lapar, ia tidak akan berterima kasih, tetapi akan menerkam pemiliknya. Artinya, pemimpin yang didukung secara salah akan berbalik merugikan rakyat/pengikutnya.
  • Tindakan yang Sia-sia (Berternak di Gurun Pasir): Gurun pasir adalah tempat yang gersang dan tidak mendukung kehidupan (serigala butuh habitat hutan/dingin). Berternak di sana berarti membuang energi, waktu, dan sumber daya untuk sesuatu yang tidak akan tumbuh atau berhasil.
  • Memelihara Bahaya (Serigala): Serigala adalah predator. Menyanjung pemimpin yang salah, korup, atau tidak kompeten sama dengan memelihara serigala. Saat serigala itu besar dan lapar, ia tidak akan segan memangsa peternaknya sendiri. Artinya, sanjungan palsu pada akhirnya akan merugikan orang yang menyanjung itu sendiri.
  • Kebutaan Realitas (Pujian Palsu): Pemimpin yang terus disanjung padahal kinerjanya buruk akan kehilangan kontak dengan realitas. Mereka tidak tahu masalah sesungguhnya, membuat kebijakan yang salah, dan akhirnya memimpin diri mereka sendiri dan pengikutnya menuju kehancuran.

Peringatan dan pesan yang bisa kita sampaikan bahwa menyanjung pemimpin secara membabi buta adalah tindakan bunuh diri secara perlahan, di mana pelakunya memberi makan potensi bahaya yang kelak akan menghancurkan mereka.

Menyanjung pemimpin tidak sesuai kenyataan (pujian palsu atau false praise) adalah fenomena sosial-politik yang memiliki akar filosofis dan dampak psikologis yang dalam. Secara filosofis, perilaku ini bergeser dari pencarian kebenaran menuju manipulasi realitas demi kepentingan tertentu.

1. Filosofi Pragmatisme dan Kekuasaan (Machiavellian)

  • Kehilangan Batas Realitas: Ketika pujian palsu menjadi norma, batas antara kepentingan rakyat dan kepentingan pribadi penguasa menjadi kabur.
  • Manipulasi Citra: Seringkali ini adalah bagian dari strategi untuk membangun personal branding yang kuat namun semu, di mana citra dianggap lebih penting daripada karakter nyata.
  • Kambing Hitam: Pemimpin yang buruk sering kali diselamatkan oleh pengikut yang menyanjung, yang mencegah pemimpin tersebut menyadari kelemahannya, sehingga ketika pemimpin tersebut gagal, mereka justru menjadi “kambing hitam” atas kesalahan yang sebelumnya tidak diperbaiki. 

2. Aspek Etika dan Integritas (Ketulusan vs. Lisan)

  • Ketiadaan Integritas: Memuji secara berlebihan tanpa dasar kenyataan menunjukkan hilangnya integritas. Integritas membutuhkan kejujuran antara pikiran dan ucapan.
  • Penyebaran Inspirasi Salah: Pujian sejati harus menginspirasi, namun jika dipaksakan tidak sesuai kenyataan, hal tersebut justru menjadi kebohongan publik yang merusak moralitas.
  • Gema Kosong: Kata-kata yang tidak diiringi tindakan nyata adalah gema kosong, yang pada akhirnya akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat. 

3. Filosofi Sosial-Kultural (Cermin Umat)

  • Cermin Amalan Kolektif: Secara filosofis, ada pandangan bahwa pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya. Jika pemimpin tidak jujur dan pengikutnya menyanjung berlebihan, itu bisa mencerminkan kondisi moral kolektif masyarakat itu sendiri (analogi cermin/kaca).
  • Kebutuhan akan Feedback Jujur: Pemimpin yang baik membutuhkan umpan balik yang konstruktif (feedback), bukan pujian yang menutup mata dari kesalahan. 

Dampak Filosofis:Tindakan ini merusak kultur organisasi atau negara, menciptakan pemimpin yang tidak aman (insecure) karena takut akan kebenaran, dan menghasilkan ketidakpuasan serta penurunan produktivitas akibat arah kebijakan yang salah.