Tunjuk Lurus Kelingking Berkait, Kisah Abu Jahal dan Abu Lahab Versi Rakyat Jambi

Oleh Selingka Pemayung Group

Pemayung.com, Jambi, Filosofi peribahasa “telunjuk lurus kelingking berkait” menggambarkan kemunafikan atau perilaku seseorang yang tampak baik, jujur, atau alim dari luar (telunjuk lurus), namun sebenarnya menyimpan niat jahat, licik, atau curang di dalam hatinya (kelingking berkait). 

Berikut adalah poin-poin penting mengenai filosofi tersebut:

  1. Filosofi “Telunjuk Lurus Kelingking Berkait” (Bagi Pemimpin yang mengatakan orang lain tidak jujur)
  • Ketidakjujuran Lahiriah: Menunjukkan kontradiksi antara perilaku yang ditampilkan (pencitraan) dan niat asli.
  • Peringatan akan Kewaspadaan: Peribahasa ini digunakan untuk menyindir orang yang bertindak tidak jujur atau memiliki maksud terselubung.
  • Makna Kiasan:
    • Telunjuk lurus: Melambangkan penampilan luar yang tampak lurus, benar, atau baik.
    • Kelingking berkait: Melambangkan niat jahat atau kelicikan yang tersembunyi
    •  Peribahasa ini menyindir orang yang munafik—tampak alim atau baik di depan, tetapi sebenarnya merencanakan kejahatan atau memiliki hati yang busuk. 

2. Mengapa dengan Abu Jahal

Abu Jahal (Amr bin Hisyam) adalah salah satu musuh terbesar Islam yang paling aktif menentang dakwah Nabi Muhammad SAW.

  • Sikap “Kelingking Berkait”: Abu Jahal adalah tokoh masyarakat Quraisy yang disegani (tampak berwibawa/telunjuk lurus), namun hatinya dipenuhi kebencian dan iri hati yang luar biasa terhadap Nabi Muhammad.
  • Tindakan: Ia menggunakan pengaruh dan kekayaannya untuk menghalangi dakwah, menghina Nabi, bahkan merencanakan pembunuhan. Ia berpura-pura mempertahankan tradisi nenek moyang demi kepentingan pribadinya, padahal ia tahu bahwa dakwah Nabi adalah kebenaran.

Abu Jahal (Tokoh Quraisy): Dikenal dengan julukan “Bapak Kebodohan”. Ia adalah provokator utama yang mencela, memboikot, hingga merencanakan pembunuhan Nabi. Dalam penuturan, ia sering digambarkan sebagai orang yang sangat rasional namun angkuh, menolak Islam karena merasa hidupnya sudah cukup dan aturan baru akan menyulitkannya. Ia digambarkan sering meletakkan kotoran hewan pada Nabi saat salat.

3. Mengapa dengan Abu Lahab ?

Abu Lahab (Abdul Uzza) adalah paman kandung Nabi Muhammad SAW yang menjadi penentang keras.

  • Sikap “Kelingking Berkait”: Sebagai kerabat dekat, seharusnya Abu Lahab mendukung Nabi. Namun, ia justru menjadi orang pertama yang memprovokasi Quraisy untuk memusuhi Nabi.
  • Tindakan: Surah Al-Lahab diturunkan sebagai teguran keras atas perilaku Abu Lahab dan istrinya yang gemar menyebar fitnah dan menghalangi ajaran Islam. Ia tampak baik sebagai paman, namun tindakannya penuh kelicikan untuk menjatuhkan keponakannya sendiri. 

Dikenal sebagai orang yang sangat dekat hubungan darahnya namun paling keras kebenciannya. Ia digambarkan sebagai paman yang menggunakan hartanya untuk menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW. Dalam narasi rakyat, ia sering digambarkan sebagai sosok yang angkuh, yang menolak kebenaran karena gengsi dan takut kehilangan status sosial. Istrinya, Ummu Jamil, sering disebut sebagai “pembawa kayu bakar” (penyebar fitnah) yang membantu Abu Lahab menyakiti Nabi.

Versi Kearifan Lokal (Hikmah yang Sering Disampaikan): Tokoh agama di Jambi sering menekankan bahwa nasab (keturunan) mulia tidak menjamin seseorang masuk surga jika hati tidak beriman, merujuk pada Abu Lahab. Selain itu, kisah ini sering dipakai untuk memperingatkan masyarakat agar tidak menjadi orang yang “berilmu tapi tidak beradab” (seperti Abu Jahal). Ini disampaikan oleh Tokoh Agama, jika di sampaikan oleh mereka yang mempunyai sifat kelingking berkait, sama saja dirinya menunjukkan sifatnya sendiri.

4. Cara Mengatasi (Sifat Telunjuk Lurus Kelingking Berkait)/Mengambil Hikmah (Refleksi)

Dalam konteks sosial dan etika, menghadapi atau mengatasi sifat seperti ini memerlukan kewaspadaan:

  • Waspada dan Bijak (Tabayyun): Jangan mudah percaya pada tampilan luar. Selalu lakukan tabayyun (klarifikasi) atas informasi atau sikap seseorang yang tampak terlalu sempurna.
  • Lihat Tindakan Nyata: Menilai seseorang berdasarkan konsistensi antara perkataan (telunjuk) dan perbuatannya (kelingking) dalam jangka panjang.
  • Kekuatan Integritas (Diri Sendiri): Menghindari perilaku munafik dengan menyelaraskan hati, perkataan, dan perbuatan agar tidak terjebak dalam karakter tersebut.
  • Belajar dari Sejarah: Peringatan dalam Surah Al-Lahab mengajarkan bahwa kesombongan dan tindakan culas, meskipun tersembunyi, akan diungkapkan oleh kebenaran dan mendatangkan kerugian (akhirat/sosial).
  • Meningkatkan Keikhlasan dalam Beramal: Belajar dari kisah Abu Lahab, kekayaan dan jabatan tidak berguna jika tidak digunakan di jalan Allah.
  • Menghindari Sifat Angkuh (Takabur): Menjauhi sifat Abu Jahal yang menolak kebenaran karena merasa diri lebih hebat atau lebih mapan.
  • Waspada terhadap Fitnah: Mengambil pelajaran dari Ummu Jamil (istri Abu Lahab) untuk tidak menyebarkan fitnah atau mengadu domba.
  • Keteguhan Iman dan Sabar: Meniru sikap Nabi yang tetap bersabar meski disakiti secara fisik maupun mental oleh kedua tokoh tersebut

Kesimpulan:Relevansi peribahasa ini dengan kisah Abu Jahal dan Abu Lahab adalah gambaran tentang kekejaman yang disembunyikan di balik jabatan dan kekerabatan. Meskipun keduanya berkedudukan tinggi di Quraisy (telunjuk lurus), mereka menggunakan posisi tersebut untuk merencanakan kejahatan dan fitnah (kelingking berkait) demi menentang dakwah Nabi Muhammad SAW.

  • Kisah di atas bersumber dari sirah nabawiyah dan tafsir Al-Qur’an (khususnya Surat Al-Lahab) yang diajarkan secara umum.
  • Penyebutan “rakyat Jambi” merujuk pada penyampaian kisah melalui metode tutur atau ceramah oleh para tokoh agama setempat, namun tetap merujuk pada sumber utama sirah nabawiyah (hadis dan tafsir).
  • Kisah ini bertujuan sebagai pelajaran moral (ibrah), bukan untuk menghujat personal secara berlebihan, melainkan mengambil pelajaran dari perbuatannya.

Disclaimer

Peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan perilaku (sifat) seseorang, bukan untuk memfitnah secara personal tanpa bukti. Penafsiran kisah sejarah (Abu Lahab/Abu Jahal) didasarkan pada sumber-sumber tafsir yang umum dikutip dalam literatur Islam untuk tujuan pelajaran moral, bukan kebencian personal.