Ironi Pusat Kekuasaan: Perkantoran Wali Kota Jambi Tak Punya Kolam Retensi, Warga Paal V Jadi Korban Banjir Kiriman

JAMBI, Pemayung.com – Kawasan perkantoran Wali Kota Jambi yang seharusnya menjadi simbol ketertiban tata ruang kini justru menjadi sorotan tajam. Di balik megahnya gedung-gedung pemerintahan, tersimpan fakta pahit: pusat perkantoran ini diduga kuat tidak memiliki infrastruktur kolam retensi yang memadai. Akibatnya, limpasan air hujan dari kawasan beton tersebut langsung tumpah ke pemukiman warga di wilayah Paal V dan sekitarnya, menjadikannya beban banjir yang menyengsarakan rakyat.

Kondisi ini dianggap sebagai bentuk ironi yang luar biasa. Di satu sisi, Pemerintah Kota Jambi melalui Dinas PUPR gencar menekan pihak swasta seperti JBC untuk membangun kolam retensi, namun di sisi lain, “halaman rumah” sang Wali Kota sendiri justru disinyalir mengabaikan standar pengendali banjir yang sama.

“Setiap hujan deras, air dari arah perkantoran Wali Kota mengalir sangat deras ke bawah sini. Dulu tidak separah ini, tapi sejak banyak pembangunan gedung baru di atas tanpa ada bak penampung air (kolam retensi), rumah kami di Paal V selalu jadi korban kiriman banjir,” keluh salah satu warga setempat yang rumahnya kerap terendam lumpur.

Pengamat Kebijakan Publik, Afrizal, menilai hal ini sebagai bukti lemahnya perencanaan infrastruktur pemerintah yang tidak dibarengi dengan mitigasi dampak lingkungan. Menurutnya, pemerintah harus memberikan contoh sebelum menuntut kepatuhan pihak swasta.

“Bagaimana Wali Kota bisa tegas menindak pengembang yang membandel soal kolam retensi, jika kantornya sendiri menjadi penyumbang banjir bagi warga Paal V? Ini adalah masalah integritas. Pemerintah Kota Jambi harus segera membangun sistem drainase terintegrasi dan kolam retensi di kawasan perkantoran tersebut agar tidak terus membebani masyarakat di dataran yang lebih rendah,” tegas Afrizal.

Hingga saat ini, warga Paal V hanya bisa pasrah menanti tindakan nyata. Mereka mendesak agar anggaran pemeliharaan infrastruktur dialihkan untuk membangun kolam retensi di area perkantoran tersebut sebagai solusi jangka panjang, bukan sekadar solusi jangka pendek yang tidak menyentuh akar persoalan.

Ketinggian banjir di wilayah Paal V dan sekitarnya saat hujan deras bervariasi tergantung intensitas curah hujan dan titik lokasinya. Secara umum, genangan air di kawasan ini dilaporkan berkisar antara 30 cm hingga lebih dari 100 cm (1 meter).

Berikut rincian estimasi ketinggian air berdasarkan data historis dan laporan warga:

  • Genangan Jalan & Halaman: Berkisar antara 30 cm – 50 cm (setinggi lutut orang dewasa). Hal ini sering terjadi akibat saluran drainase primer yang meluap karena tidak mampu menampung limpasan air dari dataran yang lebih tinggi.
  • Titik Terparah/Pemukiman Rendah: Dapat mencapai 70 cm – 100 cm (setinggi pinggang hingga dada orang dewasa). Pada kondisi ini, air sudah mulai merambah masuk ke dalam rumah warga dan merusak perabotan rumah tangga.
  • Dampak Akibat Luapan Sungai: Jika hujan berlangsung lama, luapan Sungai Kenali Asam di sekitar wilayah ini dapat memicu banjir dengan ketinggian lebih dari 1 meter di titik-titik rawan genangan. 

Ketiadaan kolam retensi di pusat perkantoran yang luas memperparah kondisi ini, karena seluruh air hujan langsung dialirkan ke drainase warga tanpa adanya proses parkir air atau resapan sementara.

Catatan Redaksi :

Seluruh rangkaian produk jurnalistik ini disusun dengan mematuhi amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pasal 5 ayat (2) UU Pers mewajibkan pers melayani Hak Jawab, yakni hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap penyajian berita berupa fakta yang merugikan nama baiknya. Redaksi Pemayung.com membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak terkait untuk memberikan klarifikasi demi keberimbangan informasi.