Partai Hanura Jambi kini menempuh jalur politik yang unik dalam menggalang massa. Dengan filosofi “Lepas Sendal Masuk Masjid”, Sang Nakhoda M. Ritas Mairiyanto mencoba mendekati rakyat melalui pintu kerendahan hati dan kesucian niat di tempat ibadah.
Pemayung.com JAMBI — Di tengah hiruk-pikuk baliho politik yang menjulang di persimpangan jalan, sebuah gerakan senyap namun mendalam sedang digulirkan oleh jajaran DPD Partai Hanura Provinsi Jambi. Memasuki April 2026, istilah “Lepas Sendal Masuk Masjid” bukan lagi sekadar kiasan ritual, melainkan telah bertransformasi menjadi strategi komunikasi politik yang kental dengan nuansa pendekatan kultural dan religius.
Strategi ini digagas oleh M. Ritas Mairiyanto sebagai simbol penanggalkan ego jabatan dan kemewahan saat berhadapan dengan rakyat. Bagi Hanura Jambi, masjid bukan sekadar tempat penggalangan massa, melainkan ruang suci untuk mendengar langsung kegelisahan warga tanpa sekat birokrasi yang kaku.
Filosofi di Balik Langkah Tanpa Alas
Pilihan kata “Lepas Sendal” memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam tradisi Melayu Jambi dan Islam, melepas alas kaki adalah bentuk penghormatan terhadap kesucian tempat dan kesetaraan derajat manusia di hadapan Sang Pencipta. Dengan narasi ini, Hanura mencoba memposisikan kadernya bukan sebagai “penguasa” yang datang untuk memerintah, melainkan sebagai “hamba” yang datang untuk melayani.
“Masjid adalah titik nol kejujuran masyarakat. Di sana, tidak ada pangkat, yang ada hanya niat yang ikhlas,” ungkap seorang kader Hanura di sela-sela kegiatan silaturahmi. Strategi ini dinilai efektif untuk memulihkan kepercayaan publik yang sering kali merasa galau oleh janji-janji politik yang hanya manis di luar pagar rumah ibadah.
Menepis Isu Politisasi Agama
Langkah Hanura ini tentu tak lepas dari sorotan. Di tengah sensitivitas isu politik identitas, Hanura Jambi menegaskan bahwa gerakan ini bukanlah bentuk politisasi agama, melainkan upaya mengembalikan marwah “Hati Nurani” ke dalam ruang-ruang spiritual. Fokus kegiatannya lebih pada aksi sosial, pembersihan rumah ibadah, hingga pendampingan ekonomi bagi jamaah melalui pemberdayaan masyarakat.
Bagi Bang Ritas, politik lepas sendal adalah bentuk komitmen untuk tidak melupakan akar sejarah dan kearifan lokal Jambi yang religius. Tantangannya kini adalah membuktikan bahwa ketulusan di pelataran masjid tersebut benar-benar berlanjut menjadi kebijakan nyata di parlemen nanti, bukan sekadar strategi musiman demi meraih suara.
CATATAN REDAKSI & ANALISIS
Laporan ini disusun berdasarkan pengamatan terhadap pola sosialisasi Partai Hanura di wilayah Jambi yang mulai intens melakukan pendekatan berbasis komunitas religius.
- Etika Publik: Redaksi menyoroti pentingnya menjaga batasan antara penggalangan massa dan penghormatan terhadap kesucian rumah ibadah sesuai regulasi pemilu yang berlaku.
- Keseimbangan Informasi: Berita ini merupakan bagian dari ulasan mengenai inovasi strategi kampanye partai politik di tingkat daerah.
- Independensi: Naskah ini bersifat informatif dan bertujuan memberikan gambaran mengenai dinamika strategi politik yang berkembang di Jambi menuju kontestasi mendatang.




















