Ketika gubernur mendesak koordinasi massal menghadapi ‘Godzilla El Nino’. Mampukah birokrasi daerah memadamkan api sebelum ia benar-benar berkobar?
Ancaman kemarau panjang kini membayang di cakrawala Jambi. Dengan prediksi El Nino ekstrem yang dijuluki “Godzilla”, Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah bersiap menghadapi musim panggang yang lebih kering, lebih panas, dan lebih panjang.
Pemayung.com, JAMBI — Di bawah langit Jambi yang mulai memucat, sebuah peringatan dini bergema dari stasiun meteorologi. BMKG Jambi memberikan sinyal merah: musim kemarau 2026 akan hadir lebih awal dan membawa dampak yang jauh lebih merusak ketimbang tahun sebelumnya. Penyebabnya adalah kembalinya fenomena El Nino dengan intensitas yang diprediksi mencapai 80 persen, cukup untuk memicu kekeringan ekstrem hingga bulan September mendatang.
Prakirawan BMKG Jambi, Luckita Theresia, menyebut transisi ini sebagai masa kritis. Jika pada 2025 Jambi masih “dibasahi” oleh sisa-sisa La Nina, maka tahun 2026 adalah tahun di mana matahari akan benar-benar menunjukkan taringnya.
Titik Api di Lahan Gambut
Sorotan tajam kini tertuju pada wilayah-wilayah yang secara historis menjadi “langganan” titik api. Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Tanjung Jabung Barat masuk dalam zona siaga utama. Karakteristik lahan gambut di wilayah ini menjadikannya seperti sumbu yang siap menyulut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masif begitu air tanah menyusut akibat penguapan ekstrem.
Hingga pertengahan April 2026, suhu udara di Kota Jambi mulai merangkak naik, menyentuh angka 31°C hingga 34°C. Angka ini diprediksi akan terus menanjak hingga puncaknya pada Agustus dan September, saat wilayah pesisir utara dan tengah Jambi benar-benar terpanggang tanpa curah hujan yang berarti.
Gubernur Ajak Sinergi Cegah Petaka
Gubernur Jambi, Al Haris, tidak tinggal diam menghadapi ancaman “Godzilla El Nino” ini. Dalam koordinasi terbaru pada 10 April 2026, ia mendesak seluruh bupati dan walikota untuk tidak sekadar menunggu instruksi, melainkan segera melakukan pemetaan bahaya karhutla di wilayah masing-masing.
Langkah antisipasi seperti operasi modifikasi cuaca dan penguatan satgas karhutla menjadi harga mati jika Jambi tak ingin kembali terperangkap dalam kabut asap yang melumpuhkan. Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah koordinasi di atas kertas ini akan cukup tangguh saat api mulai menari di kedalaman gambut nanti?
INFOGRAFIS: ZONA MERAH “GODZILLA EL NINO” JAMBI
- Wilayah Risiko Tertinggi (High Risk): Muaro Jambi (Kawasan Eks-PLG), Tanjab Timur (Pesisir Gambut Dalam), dan Tanjab Barat.
- Puncak Krisis: Diprediksi pada Agustus – September 2026.
- Suhu Maksimal: Potensi lonjakan hingga 35.5°C di area perkotaan.
- Status Mitigasi: Siaga Operasi Modifikasi Cuaca (TMC) dan aktivasi Satgas Karhutla.
Kini, sementara bumi mulai merekah akibat panas yang menyengat, kesiapan pemerintah daerah dalam memitigasi bencana kekeringan menjadi pertaruhan. Apakah Jambi akan kembali terperangkap dalam siklus petaka asap, ataukah adaptasi iklim daerah sudah cukup tangguh menghadapi musim panggang kali ini? (tim)
CATATAN REDAKSI & HAK JAWAB
Laporan ini disusun berdasarkan data prakiraan musiman BMKG Jambi serta langkah koordinasi penanggulangan karhutla Pemprov Jambi per April 2026.
- Akurasi Data: Redaksi merujuk pada pembaruan harian suhu maksimal dari Databoks Katadata .
- Mitigasi Publik: Penayangan berita ini bertujuan mendorong masyarakat Jambi untuk waspada terhadap dampak dehidrasi dan polusi udara di masa transisi musim.
- Hak Jawab: Redaksi menyediakan ruang bagi BPBD Provinsi Jambi maupun BMKG untuk memberikan panduan keselamatan tambahan seiring berkembangnya dinamika El Nino.





















