Perang Harga di Meja Admin, Jebakan Batman di PT SAS

Menguak taktik ‘adu domba’ PT SAS terhadap media di Jambi. Benarkah bocornya bukti pembayaran sengaja dirancang untuk membungkam kritik?

.Taktik baru diduga tengah dimainkan manajemen PT Sinar Anugerah Sukses (PT SAS) untuk meredam kritisnya pemberitaan. Dengan sengaja membocorkan bukti pembayaran media dengan angka yang berbeda-beda, perusahaan disinyalir sedang melancarkan operasi adu domba antar-wartawan.

Pemayung.com, JAMBI — Ruang redaksi sejumlah media di Jambi mendadak riuh dalam beberapa hari terakhir. Pemicunya bukan soal rilis pers resmi, melainkan bocornya sejumlah salinan invoice atau bukti pembayaran kerja sama dari bagian administrasi PT SAS. Masalahnya, angka yang tertera dalam dokumen-dokumen tersebut sengaja dibuat jomplang satu sama lain, memicu api kecurigaan di tengah komunitas pers yang sedang mengawal isu stockpile.

Penelusuran menunjukkan bahwa penyebaran bukti pembayaran ini diduga bukan merupakan kelalaian administratif belaka. Muncul kecurigaan bahwa ini adalah langkah taktis untuk memicu sentimen negatif antar-media: menciptakan kasta “media emas” dan “media pinggiran” agar solidaritas jurnalis dalam mengawal konflik PT SAS di Aur Kenali pecah berantakan.

Pecah Belah ala Korporasi

Seorang pengelola media yang enggan disebutkan namanya menyebut tindakan admin PT SAS ini sebagai upaya “adu domba” yang kasar. “Sengaja dikirim ke media A untuk diperlihatkan bahwa media B dibayar lebih mahal, atau sebaliknya. Tujuannya jelas: agar kami saling sikut dan kehilangan fokus pada substansi penolakan warga,” ujarnya kepada Tempo.

Strategi ini dinilai sebagai respons perusahaan terhadap kian masifnya penolakan warga Aur Kenali dan Mendalo Darat. Dengan memantik kecemburuan sosial di kalangan jurnalis, PT SAS diduga berharap pemberitaan yang menyudutkan mereka akan melemah seiring dengan munculnya konflik internal di tubuh organisasi profesi maupun komunitas pers lokal.

Krisis Etika di Jalur Legal

Sengkarut ini kian mempertebal catatan merah terhadap tim legal dan administrasi PT SAS. Setelah sebelumnya dituding “memelihara” konflik demi keuntungan pribadi, kini mereka dituduh menggunakan cara-cara non-etis untuk membungkam kebebasan berpendapat.

Alih-alih memberikan transparansi terkait perizinan stockpile yang masih menjadi sengketa, manajemen perusahaan justru memilih jalur belakang yang provokatif. Praktik ini tidak hanya mencoreng citra korporasi, tetapi juga menjadi ujian berat bagi integritas jurnalis di Jambi untuk tetap solid meski dihantam godaan materiil yang sengaja dibuat tidak merata.

CATATAN REDAKSI & HAK JAWAB

Laporan ini disusun berdasarkan pengaduan dari sejumlah pengelola media di Jambi terkait adanya perlakuan administratif yang tidak wajar dan cenderung provokatif dari pihak PT SAS.

  1. Independensi Pers: Redaksi menegaskan bahwa kerja sama komersial dalam bentuk iklan atau pariwara tidak boleh mengintervensi independensi ruang redaksi dalam melakukan kontrol sosial.
  2. Hak Jawab (Pasal 5 UU Pers): Redaksi menyediakan ruang seluas-luasnya bagi Manajemen PT SAS maupun bagian Administrasi dan Legal untuk menjelaskan alasan di balik kebijakan penyebaran data finansial yang dinilai tendensius tersebut.
  3. Hingga Berita Ditayangkan: Belum ada keterangan resmi dari pimpinan PT SAS terkait dugaan operasi adu domba media ini.