Pemayung.com Jambi – Ketua Gapensi Jambi, Ritas Mairiyanto, menuding proyek nasional di daerah abai terhadap pengusaha lokal. Tanpa pelibatan asosiasi daerah, para kontraktor lokal kini hanya menjadi saksi bisu di tengah derasnya kucuran dana pusat.
DI sepanjang jalur lintas yang membelah Provinsi Jambi, deru mesin alat berat tak henti-hentinya menggerus aspal dan tanah. Proyek-proyek strategis nasional bernilai miliaran hingga triliun rupiah sedang dikerjakan guna mempercantik konektivitas Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Namun, bagi para pengusaha konstruksi lokal, kemegahan itu terasa hambar. Mereka merasa hanya kebagian debu, sementara “kue” ekonomi yang besar habis dilahap perusahaan luar.
Keluhan ini disuarakan dengan lantang oleh Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Provinsi Jambi, Ritas Mairiyanto. Menurutnya, ada pola yang mengkhawatirkan dalam pelaksanaan proyek nasional di Jambi: pengabaian terhadap pengusaha daerah dan Asosiasi Konstruksi Daerah secara sistematis.
“Banyak proyek nasional di Jambi tidak melibatkan pengusaha lokal dan sama sekali tidak menyentuh Asosiasi Konstruksi Daerah. Akibatnya, kontraktor kita banyak yang hanya jadi penonton di rumah sendiri,” ujar Ritas dengan nada kecewa kepada Pemayung.com.
Dominasi Luar dan Praktik “Pinjam Bendera”
Ritas mengendus adanya praktik yang merusak ekosistem usaha daerah. Proyek-proyek besar yang didanai APBN sering kali jatuh ke tangan perusahaan raksasa dari luar Jambi yang membawa seluruh perangkatnya sendiri, tanpa memberikan ruang sub-kontrak bagi pengusaha lokal yang kredibel.
Bahkan, ia mensinyalir munculnya praktik “pinjam bendera” atau perusahaan tameng yang digunakan oleh oknum tertentu demi memenangkan tender. Praktik ini dinilai sangat mencederai pengusaha lokal yang telah memiliki Sertifikat Badan Usaha (SBU) resmi dan kewajiban pajak yang jelas di daerah.
“Pemerintah seharusnya memprioritaskan kontraktor resmi di daerah. Kami punya tenaga ahli dan alat, tapi kenapa seolah-olah tidak ada kepercayaan?” tanya Ritas.
Ancaman Gulung Tikar
Minimnya keterlibatan pengusaha lokal dalam proyek strategis ini berdampak luas. Selain mematikan kreativitas pengusaha daerah, kondisi ini juga mengancam serapan tenaga kerja lokal di sektor konstruksi. Gapensi Jambi khawatir, jika tren “marginalisasi” ini terus berlanjut, banyak pengusaha konstruksi lokal yang akan gulung tikar.
Atas kondisi tersebut, Gapensi mendesak Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) maupun kementerian terkait untuk melakukan evaluasi radikal dalam proses lelang. Ritas meminta agar syarat-syarat teknis dalam tender tidak dijadikan alat untuk menjegal pengusaha lokal, melainkan sebagai sarana untuk memberdayakan mereka.
Bagi Ritas, transparansi adalah harga mati. Ia mengingatkan bahwa pembangunan nasional seharusnya membawa kesejahteraan bagi masyarakat di lokasi proyek, bukan sekadar meninggalkan infrastruktur megah sementara pengusaha lokalnya mati perlahan di tengah kepulan debu proyek.
Catatan Redaksi:Seluruh proses peliputan tunduk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kami menjunjung tinggi kemerdekaan pers sebagai wujud kedaulatan rakyat yang berasas pada prinsip-prinsip demokrasi dan supremasi hukum.
Hak Jawab dan Koreksi:Sesuai Pasal 1, 5, dan 6 UU No. 40/1999, setiap pihak yang berkepentingan berhak memberikan Hak Jawab atau Hak Koreksi melalui meja redaksi Pemayung.com.





















