Pemayung.com, JAMBI – Memasuki bulan kedua pasca insiden peretasan sistem keamanan pada akhir Februari 2026, aktivitas perbankan di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jambi atau Bank Jambi belum sepenuhnya kembali normal seperti sedia kala. Meskipun pihak manajemen mengeklaim dana nasabah aman dan telah diganti, “derita” rakyat Jambi, khususnya para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan nasabah setia, masih terus berlanjut akibat keterbatasan akses layanan digital.
Layanan Digital Masih TerbelengguHingga saat ini, layanan mobile banking Bank Jambi dilaporkan masih diblokir atau dalam tahap pemulihan terbatas guna mencegah serangan siber susulan. Kondisi ini memaksa ribuan nasabah untuk:
- Antre Sejak Dini Hari: Nasabah di berbagai kantor cabang harus mengantre sejak pukul 04.00 WIB demi melakukan penarikan gaji atau tunjangan secara manual di teller.
- Krisis Kartu ATM: Pemulihan kartu ATM juga mengalami kendala distribusi. Dari kebutuhan 100 ribu kartu, baru tersedia sekitar 60 ribu kartu secara bertahap karena keterbatasan pasokan dari vendor.
- Akses Transaksi Terhambat: Banyak nasabah mengeluh karena harus meluangkan waktu lebih banyak untuk bertransaksi langsung di kantor cabang akibat aplikasi perbankan yang belum berfungsi optimal.
Kerugian Fantastis Rp143 MiliarData dari Ditreskrimsus Polda Jambi mengungkap bahwa total kerugian akibat bobolnya sistem keamanan digital Bank Jambi mencapai sekitar Rp143 miliar. Kerugian ini menimpa lebih dari 6.000 nasabah yang saldonya sempat dilaporkan hilang secara misterius dari rekening mereka.
Laba Daerah Jadi PenjaminGuna meredam gejolak di masyarakat, Gubernur Jambi Al Haris selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) mengambil langkah drastis dengan memastikan bahwa seluruh kerugian nasabah sepenuhnya ditanggung melalui laba tahun buku 2025 Bank Jambi. Keputusan ini berarti sebagian besar dividen atau keuntungan bank yang seharusnya menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk pembangunan Jambi, kini terpaksa dialihkan untuk menutupi lubang akibat insiden siber tersebut.
Upaya Pemulihan di Tengah PenghargaanMeski dihantam badai peretasan, Bank Jambi tetap mencoba menunjukkan eksistensinya dengan meraih predikat Bank BUMD terbaik tahun 2026 dari riset independen Majalah Infobank. Namun, bagi nasabah di lapangan, predikat tersebut belum sebanding dengan kemudahan layanan yang dulu mereka nikmati.
Pihak Manajemen Bank Jambi saat ini masih terus melakukan audit forensik bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan sistem benar-benar aman sebelum layanan digital dibuka sepenuhnya bagi publik. (tim)



















