Etalase Baru di Aek Meliuk, Harapan Besar UMKM Batanghari

Pemayung.com – Bulian, Bupati Batanghari, M. Fadhil Arief, tancap gas merombak wajah pariwisata daerah. Gedung pusat oleh-oleh di Muara Bulian diperluas dengan anggaran miliaran rupiah, ambisi menjadikan UMKM sebagai motor baru ekonomi Bumi Serentak Bak Regam.

EKONOMI & BISNIS

DI tepi jalur lintas Sumatera yang membelah Muara Bulian, sebuah proyek ambisius sedang bersiap naik cetak. Bukan sekadar tumpukan bata dan semen, perluasan Gedung Pusat Oleh-oleh di kawasan Aek Meliuk ini dirancang Bupati Batanghari, M. Fadhil Arief, sebagai “benteng” baru bagi ekonomi kerakyatan.

Tahun 2026 menjadi titik balik bagi sektor pariwisata Batanghari. Fadhil tak ingin pariwisata hanya jadi pemanis di buku laporan tahunan. Ia menempatkan sektor ini sebagai prioritas strategis. Buktinya terang benderang dalam sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) : sebuah paket lelang bertajuk Perluasan Bangunan Gedung Pusat Oleh-oleh telah resmi diluncurkan dengan Pagu Paket sebesar Rp2,3 miliar.

Bagi Fadhil, anggaran miliaran itu adalah investasi untuk menghidupkan sekitar 2.000 unit UMKM yang tersebar di pelosok Batanghari. Ia sadar, gedung megah hanyalah wadah; nyawanya ada pada semangat para pelaku usaha kecil. Di sela-sela peninjauan program, Fadhil pun melontarkan pesan penyemangat bagi para pelaku ekonomi kreatif di daerahnya.

“UMKM kita jangan pernah merasa kecil, karena ekonomi bangsa ini justru tegak berdiri di atas pundak pejuang-pejuang lokal seperti bapak dan ibu sekalian. Teruslah berinovasi dengan kualitas, karena produk asli Batanghari punya nilai yang tidak dimiliki daerah lain. Pemerintah menyiapkan wadahnya, tugas kalian adalah mengisinya dengan kebanggaan,” ujar Fadhil memotivasi para pelaku UMKM.

Strategi Fadhil cukup cerdik. Ia memanfaatkan lokasi strategis gedung di Aek Meliuk yang menjadi urat nadi perlintasan kendaraan menuju Jambi. Gedung ini tidak hanya diposisikan sebagai tempat belanja, tapi juga sebagai rest area atau tempat persinggahan alternatif bagi para pelancong lintas provinsi.

“Pusat oleh-oleh ini menempati area strategis. Selain memudahkan wisatawan mendapatkan buah tangan khas Batanghari, ini juga jadi alternatif persinggahan bagi pengguna jalan umum,” tambah Fadhil.

Pendekatan ini merupakan bagian dari visi besar optimalisasi potensi lokal dan pelestarian budaya. Melalui perluasan gedung ini, produk budaya Batang Hari—mulai dari kuliner hingga kerajinan tangan—memiliki panggung yang lebih representatif untuk naik kelas.

Kini, warga Batanghari menanti apakah gedung senilai Rp2,3 miliar ini benar-benar akan menjadi pusat gravitasi baru ekonomi mereka, atau sekadar bangunan megah yang sunyi di pinggir jalan lintas. Namun dengan dorongan semangat dari sang Bupati, para pelaku UMKM tampaknya sudah mulai bersiap untuk mengisi etalase tersebut.

Catatan Redaksi:Seluruh proses peliputan dan penerbitan berita ini tunduk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Hak Jawab dan Koreksi:Sesuai dengan Pasal 1, Pasal 5, dan Pasal 6 UU No. 40/1999, setiap pihak yang berkepentingan berhak memberikan Hak Jawab melalui korespondensi resmi ke alamat redaksi Pemayung.com.