Menelisik sosok Bang Ritas, pemimpin baru Hanura Jambi yang menawarkan telinga untuk mendengar dan tangan untuk memperjuangkan nasib rakyat.
Membawa jargon “Bang Ritas”, Ketua DPD Hanura Jambi, Ritas Mairiyanto, mencoba memangkas jarak dengan konstituen. Di tengah hiruk-pikuk politik yang kian pragmatis, ia menawarkan “Hati Nurani” sebagai jangkar perjuangan aspirasi.
Pemayung.com JAMBI — Di berbagai sudut kedai kopi dan percakapan warga Jambi, sebuah sapaan karib belakangan mulai sering terdengar: “Bang Ritas”. Sapaan ini bukan sekadar identitas, melainkan representasi dari langkah politik yang sedang dibangun oleh M. Ritas Mairiyanto, Ketua DPD Partai Hanura Provinsi Jambi.
Membawa pesan yang lugas—”Jangan risau apolagi galau”—Ritas mencoba menyentuh sisi psikologis masyarakat Jambi yang merindukan sosok pendengar. Di tengah skeptisisme publik terhadap politisi, ia hadir dengan janji sederhana namun mendalam: ketulusan untuk memperjuangkan aspirasi dari akar rumput.
Politik Berbasis Hati Nurani
Sebagai nakhoda Hanura di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Ritas menyadari bahwa mesin partai tidak akan bisa berjalan tanpa pelumas kepercayaan masyarakat. Baginya, politik bukanlah urusan transaksi di ruang-ruang tertutup, melainkan soal keberanian untuk hadir dan merasakan langsung kegelisahan warga.
“Kini tu sudah ado Bang Ritas,” demikian pesan yang sering disampaikan dalam berbagai kesempatan sosialisasi. Jargon ini bukan tanpa maksud; ia ingin menegaskan kehadiran fisik dan komitmen emosional partai Hanura untuk selalu menjadi saluran bagi rakyat yang merasa hak-haknya tersumbat oleh tembok birokrasi.
“Bagi sayo, politik itu bukan soal adu gagasan di awang-awang, tapi soal rasonyo kito hadir di tengah warga. Kalau wargo masih risau, artinyo hati nurani kito belum bekerja maksimal. Politik harus jadi penawar galau bagi rakyat.” kata bang ritas.
“Jangan risau apolagi galau, selamo kito masih punyo hati nurani yang ikhlas. Tugas sayo sederhana: jadi telinga yang selalu terbuka dan tangan yang selalu siap memperjuangkan setiap harapan wargo Jambi ke meja kekuasaan.”
“Jabatan ini cuma titipan, tapi pengabdian itu abadi. Bang Ritas hadir bukan untuk dilayani, tapi untuk memastikan aspirasi kawan-kawan semua tidak terhenti di tembok birokrasi. Kito kawal samo-samo demi Jambi yang lebih baik.” Tutupnya
Menjaga “Ikhlas” di Tengah Badai
Kiprah Ritas di Hanura Jambi juga menjadi ujian bagi konsistensi partai dalam menjaga marwah “Hati Nurani”. Di tengah persiapan menuju kontestasi politik mendatang, Ritas menekankan pentingnya kader-kader yang tidak hanya jago beretorika, tetapi juga memiliki keikhlasan dalam bekerja.
Bagi banyak warga, “Bang Ritas” adalah simbol harapan baru untuk perbaikan layanan publik, akses pendidikan, hingga perlindungan ekonomi kerakyatan. Tantangannya kini adalah bagaimana janji “hati nurani yang ikhlas” itu dapat dikonversi menjadi kebijakan nyata di parlemen, memastikan bahwa warga Jambi benar-benar tak perlu risau lagi akan masa depan mereka.
CATATAN REDAKSI
Laporan ini merupakan bagian dari profil tokoh politik daerah yang aktif melakukan konsolidasi basis massa dan serap aspirasi masyarakat.
- Marwah Politik: Redaksi memantau langkah-langkah strategis Ritas Mairiyanto dalam memperkuat peran Hanura sebagai pengontrol kebijakan daerah di Jambi.
- Keberimbangan: Pemberitaan ini disusun berdasarkan observasi terhadap gerakan sosial-politik “Bang Ritas” dan respons masyarakat di lapangan.
- Independensi: Naskah ini bersifat informatif dan bertujuan memberikan gambaran mengenai karakter kepemimpinan politik di tingkat provinsi.





















