LAPORAN UTAMA: DINAMIKA KEKUASAAN
Pemayung.com BANGKO – Di koridor kekuasaan Kabupaten Merangin, loyalitas sering kali memiliki masa kedaluwarsa yang tak terduga. Kabar mengejutkan berembus dari ring satu Bupati M. Syukur dan Wakil Bupati A. Khafidh. Dua nama yang selama ini dikenal sebagai “panglima” di balik layar kemenangan pasangan ini, kini menempuh nasib yang bertolak belakang. Zamroni dikabarkan tengah berada di puncak angin, sementara sosok senior H. Khaidir justru disebut-sebut mulai tersingkir dari lingkaran hangat pengambilan keputusan.
Pergeseran Orbit Kekuasaan
Naiknya pengaruh Zamroni di sekitar Bupati Syukur memicu spekulasi liar di jagat politik Merangin. Sebagai sesama motor penggerak saat pilkada lalu, Zamroni kini tampak lebih dominan dalam mengawal kebijakan strategis daerah. Sebaliknya, H. Khaidir—yang secara historis memiliki basis massa kuat dan pengaruh tradisional di wilayah Siau—justru mulai jarang terlihat dalam agenda-agenda krusial pemerintahan.
“Dalam politik, orbit itu bisa bergeser. Ada yang semakin dekat dengan matahari, ada yang perlahan menjauh karena perbedaan frekuensi,” bisik seorang sumber di lingkungan internal Pemkab Merangin. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: apakah ini sekadar rotasi peran teknis, ataukah ada keretakan hubungan yang mulai menganga antara H. Khaidir dengan sang Bupati?
Sinyal Perpecahan di Akar Rumput
Tersingkirnya H. Khaidir dinilai bukan tanpa risiko. Menepinya tokoh sekaliber dirinya bisa menjadi “bom waktu” bagi stabilitas politik Syukur-Khafid. H. Khaidir disinyalir mulai merasa “ditinggalkan” pasca-kontestasi usai, sebuah pola klasik dalam politik balas budi yang kerap melukai para pejuang awal. Di sisi lain, Zamroni dianggap lebih piawai menerjemahkan visi bupati ke dalam langkah birokrasi, menjadikannya “orang kepercayaan” baru yang paling diandalkan.
Pergeseran ini membawa dampak domino. Barisan loyalis di wilayah Siau dan sekitarnya mulai menunjukkan kegelisahan. Jika tidak dikelola dengan komunikasi yang apik, kekecewaan H. Khaidir bisa bermetamorfosis menjadi poros oposisi baru yang siap meledak di tengah jalan, terutama menjelang suksesi politik berikutnya.
Menakar Manuver H. Khaidir: Dari Panglima Pemenangan Menuju Poros Perlawanan?
Jika rasa kecewa akibat “gaya manajerial baru” yang teknokratis ala Zamroni terus dibiarkan tanpa rekonsiliasi, berikut adalah proyeksi langkah politik yang mungkin diambil oleh H. Khaidir:
1. Membangun “Poros Kecewa” di Akar RumputSebagai tokoh yang memiliki kedekatan emosional dengan basis massa tradisional di wilayah Siau dan daerah transmigrasi, H. Khaidir tidak butuh banyak waktu untuk mengonsolidasi rasa kecewa. Ia berpotensi membangun narasi bahwa pemerintahan saat ini telah melupakan “keringat” para pejuang awal. “Jika Khaidir mulai bermanuver di bawah tanah, ia bisa dengan mudah menarik gerbong relawan yang merasa senasib—merasa ditinggalkan setelah kursi kekuasaan diraih,” ungkap seorang narasumber internal.
2. Menjadi “King Maker” bagi Poros OposisiH. Khaidir tidak harus maju sendiri. Dengan pengaruhnya yang masih sakti di wilayah Siau, ia bisa menjadi king maker bagi kandidat alternatif di 2029. Ia berpotensi menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh yang saat ini berada di luar lingkaran pemerintah untuk membentuk kekuatan penyeimbang yang solid. Narasi yang akan dimainkan adalah “Pemerintah yang Mendengar Rakyat, Bukan Sekadar Proyek”.
3. Tekanan dari Parlemen: Mengunci KebijakanMelalui jejaring politisinya di DPRD Merangin, H. Khaidir bisa memberikan tekanan terhadap kebijakan-kebijakan yang dianggap sebagai produk “lobi teknokratis” Zamroni. Isu-isu sensitif seperti penurunan TPP pegawai atau pengadaan fasilitas mewah kantor akan menjadi amunisi empuk untuk menggoyang stabilitas kepemimpinan Syukur di mata publik.
Menanti Klarifikasi dari Balik Meja
Hingga laporan ini diturunkan, baik Zamroni maupun H. Khaidir belum memberikan pernyataan resmi terkait isu keretakan tersebut. Bupati M. Syukur pun tampak masih fokus pada agenda pembangunan fisik, seolah ingin menunjukkan bahwa mesin pemerintahannya tetap solid di tengah isu perpecahan tim pemenang.
Namun bagi publik Merangin, dinamika ini adalah pesan terang: di panggung kekuasaan, pahlawan kemenangan hari ini bisa saja menjadi penonton di hari esok. Kini masyarakat menanti, apakah Bupati Syukur mampu merajut kembali helai-helai loyalitas yang terkoyak, ataukah perpisahan dengan H. Khaidir adalah harga yang harus dibayar demi sebuah tatanan kekuasaan baru.
Kesimpulan:
Simalakama di Ring Satu
Membiarkan H. Khaidir berdiri di luar barisan adalah perjudian besar bagi Bupati Syukur. Tanpa pengayoman emosional dari tokoh senior, mesin birokrasi yang dipimpin Zamroni mungkin akan berjalan efisien di atas kertas, namun akan kehilangan “napas” dukungannya di lapangan. Jika rekonsiliasi gagal dilakukan sebelum akhir tahun ini, maka gerbang oposisi dari Siau dipastikan akan terbuka lebar—membawa ancaman nyata bagi keberlanjutan takhta Syukur–Khafidh.
UNDANG-UNDANG PERS DAN HAK JAWABLaporan ini disusun sebagai analisis dinamika politik daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Redaksi memberikan ruang Hak Jawab dan Hak Koreksi seluas-luasnya bagi Bupati Merangin, Zamroni, maupun H. Khaidir untuk memberikan klarifikasi resmi mengenai status hubungan mereka demi keberimbangan informasi.






















