Pertaruhan Sang Saudagar di Jalur Oranye

Ritas Mairiyanto mencoba menghidupkan kembali sel-sel mati Partai Hanura di Jambi. Memboyong klan mantan gubernur dan memperketat barisan.

LOBI Hotel Golden Harvest, Jambi, November lalu, menjadi saksi saat Ritas Mairiyanto menggenggam pataka Partai Hanura. Pengusaha yang dikenal liat dalam bernegosiasi ini terpilih secara aklamasi, mewarisi partai yang tengah “koma” setelah gagal mengirim satu pun wakil ke gedung parlemen Telanaipura pada Pemilu 2024.

Bagi Ritas, memimpin Hanura bukan sekadar urusan membagi-bagi kartu tanda anggota. Ia tahu benar, tanpa mesin yang panas, partai ini hanya akan menjadi penggembira. “Politik itu soal momentum dan kepercayaan. Kami tidak sedang membangun menara gading, kami sedang mengetuk kembali pintu-pintu hati rakyat yang sempat tertutup,” ujar Ritas kepada Tempo, di sela-sela konsolidasi pengurus di markas barunya, Jalan Jenderal A. Thalib.

Langkah Ritas terhitung taktis. Ia menarik Nur Muhammad Agus—adik kandung Hasan Basri Agus, eks Gubernur Jambi yang punya pengaruh kuat—sebagai sekretaris. Masuknya gerbong ini dianggap sebagai upaya Ritas menyuntikkan “darah biru” politik ke dalam tubuh Hanura yang sedang lesu.

Ritas sadar, tantangan terbesarnya adalah stigma partai kecil. Namun, ia menampik anggapan bahwa Hanura Jambi hanya akan menjadi pelengkap di surat suara 2029. Dengan nada bicara yang tenang namun tegas, ia memberikan perumpamaan:

“Kami mungkin mulai dari nol lagi di Jambi, tapi mesin yang kami rakit kali ini jauh lebih presisi. Saya tidak ingin Hanura hanya muncul saat musim baliho. Kita harus jadi rumah bagi mereka yang merasa aspirasinya tersumbat oleh birokrasi partai-partai besar,” cetus Ritas.

Ketegasan Ritas juga terlihat saat jajaran KPU Jambi menyambangi kantornya awal Februari lalu. Ia tak ingin lagi ada celah administratif yang menjegal langkah partainya. Baginya, ketertiban administrasi adalah separuh dari kemenangan.

Ketajaman strategi Ritas juga terlihat dari cara ia mengunci barisan intelektual. Masuknya Prof. Dr. Abdul Bari Azed ke dalam lingkaran dalamnya bukan tanpa alasan. Ia butuh tameng hukum dan arsitek kebijakan untuk menghadapi rimba politik 2029 yang diprediksi kian brutal.

Bagi para kompetitor, manuver Ritas mungkin dianggap angin lalu. Namun bagi Ritas, status “underdog” justru adalah senjata. Saat menyambut komisioner KPU Jambi di markasnya awal Februari lalu, ia mengirim sinyal bahwa tertib administrasi hanyalah langkah awal dari serangan balik yang lebih besar.

“Jangan ukur kami dari hasil kemarin. Politik itu cair, dan rakyat Jambi sudah jenuh dengan wajah-wajah lama yang itu-itu saja. Kami masuk lewat celah nurani yang sering mereka abaikan. Jika mereka meremehkan kita sekarang, mereka akan terkejut saat penghitungan suara nanti,” cetusnya.

Kini, pertaruhan Ritas tinggal satu: mampukah ia mengubah investasi politiknya menjadi kursi di Telanaipura? Ataukah Hanura Jambi hanya akan menjadi “proyek mercusuar” yang megah di susunan pengurus, namun keropos di kotak suara?

“Rakyat tidak butuh janji yang melangit, mereka butuh kepastian bahwa hati nurani pemimpinnya masih bekerja,” tambahnya, menutup percakapan. Kini, di bawah kendali sang saudagar, publik menanti apakah warna oranye Hanura benar-benar akan kembali benderang di Jambi, atau justru makin tenggelam dalam riuh persaingan partai-partai mapan.