Jalan Batubara : Harga Mati Kedaulatan Logistik Jambi

Oleh : Kemas Anto

Di tengah karut-marut geopolitik global, Jambi terjebak dalam dilema klasik: lumbung energi yang tercekik logistik purba. Jalan khusus batubara bukan lagi sekadar proyek fisik, melainkan pertaruhan martabat ekonomi daerah.

LANSKAP geopolitik dunia hari-hari ini sedang menunjukkan wajahnya yang paling muram. Dari Washington hingga Teheran, ketegangan di Timur Tengah telah mengubah peta energi menjadi permainan yang mahal dan penuh risiko. Rantai pasok global terengah-engah, harga minyak melompat-lompat, dan negara berkembang dipaksa menelan pil pahit inflasi logistik. Di tengah riuh rendah tekanan global itu, Provinsi Jambi berdiri di sebuah persimpangan yang ganjil: memiliki harta karun batubara, namun tak punya jalan keluar yang beradab.

Sudah bertahun-tahun Jambi terjebak dalam praktik logistik yang boleh dibilang “primitif”. Ribuan truk pengangkut batubara dipaksa berbagi aspal dengan kendaraan warga, ambulan, dan bus sekolah. Hasilnya adalah drama harian yang melelahkan: kemacetan yang mengular, aspal yang rontok sebelum waktunya, hingga nyawa masyarakat yang sering kali menjadi tumbal di jalan raya. Dalam kacamata kebijakan publik, ini adalah potret kegagalan tata kelola yang membiarkan ruang privat industri menginvasi ruang publik secara brutal.

Gagasan membangun jalan khusus batubara seharusnya tidak lagi dibaca dalam narasi sempit tentang pengerjaan konstruksi. Ini adalah urusan membangun ekosistem ekonomi yang efisien. Di pasar global yang kompetitif, kecepatan adalah mata uang. Daerah yang mampu memisahkan jalur industri dari jalur publik akan memiliki daya tawar tinggi untuk menarik investasi. Tanpa jalan khusus, Jambi hanya akan menjadi “daerah pengeruk” yang ditinggalkan karena biaya distribusinya yang tidak masuk akal.

Kita harus jujur melihat bahwa transisi energi dunia tidak akan terjadi dalam semalam. Batubara, betapapun ia dibenci dalam forum-forum lingkungan internasional, masih akan menjadi tulang punggung energi primer untuk waktu yang lama. Momentum inilah yang harus ditangkap. Jalan khusus adalah instrumen untuk menempatkan Jambi sebagai pemain kunci yang efektif, bukan sekadar penonton yang sibuk mengurus konflik horizontal antara sopir truk dan warga desa.

Tentu, membangun infrastruktur raksasa di tengah sensitivitas lingkungan memerlukan urat saraf yang kuat dan transparansi yang bening. Prinsip kehati-hatian tidak boleh ditukar dengan syahwat percepatan yang serampangan. Kritik dari para aktivis lingkungan dan masyarakat harus ditempatkan sebagai kompas, bukan penghambat. Namun, pemerintah daerah juga tidak boleh lumpuh karena ragu. Ketegasan mengambil keputusan strategis adalah pembeda antara pemimpin yang bervisi jangka panjang dengan mereka yang sekadar “menjaga warung”.

Investasi pada jalan khusus adalah investasi untuk menyelamatkan APBD. Selama ini, triliunan rupiah uang rakyat habis hanya untuk menambal sulam jalan yang hancur oleh beban angkutan yang tak sebanding. Jika jalur khusus ini terealisasi, beban APBD bisa dialihkan untuk menyuntik dana ke puskesmas, memperbaiki sekolah-sekolah yang reyot, atau memperkuat BUMDes di pelosok Jambi. Inilah esensi dari pembangunan yang berkelanjutan: memisahkan beban industri agar manfaat sosialnya bisa mengalir lebih jernih.

Pada akhirnya, waktu bukanlah kawan yang penyabar. Dinamika ekonomi global tidak akan menunggu Jambi selesai berdebat. Daerah yang lamban beradaptasi akan tergilas oleh ketertinggalan dan kemiskinan yang terstruktur. Percepatan jalan khusus batubara adalah langkah politik dan ekonomi yang berani—sebuah ikhtiar untuk memastikan Jambi tidak hanya kaya secara sumber daya, tetapi juga cerdas secara infrastruktur dan berdaulat secara ekonomi.

Sesuai UU Pers No. 40 Tahun 1999, kolom opini ini terbuka bagi Hak Jawab dan Hak Koreksi dari berbagai pemangku kepentingan guna menjamin keberimbangan perspektif dalam ruang publik.